MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi Mata Kuliah Dasar-Dasar PendidikanYang Diampu oleh Ibu Ade Purna Darmayanti, MMPENDIDIKAN DALAM TEKNOLOGI ERA INDUSTRI 4.0 MENUJU 5.0
Disusun olehNama : Afifah SeptianisNim : 1882050008PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRISFAKULTAS ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS PANCA SAKTI BEKASI2020
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah-SWT yang Maha-Pengasih lagi Maha-Panyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta-alam. Sehingga makalah dengan judul “Pendidikan Dalam Teknologi Era Industri 4.0 Menuju 5.0” dapat terselesaikan.Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah yang saya susun. Mungkin dari segi bahasa, susunan kalimat atau hal lain yang tidak penyusun sadari. Oleh karena itu saya sebagai penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran sebagai sarana perbaikan makalah yang lebih baik.
Bekasi, 28 November 2020Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................. iKATA PENGANTAR............................................................... iiDAFTAR ISI .............................................................................. iiiBAB I PENDAHULUAN......................................................... 11.1 Latar Belakang............................................................... 11.2 Tujuan................................................................................. 21.3 Manfaat............................................................................. 2BAB II PEMBAHASAN.......................................................... 32.1 Pendidikan 4.0 .............................................................. 32.2 Pendidikan 5.0 .............................................................. 5BAB III PENUTUP.................................................................. 123.1 Kesimpulan .................................................................... 123.2 Saran.................................................................................. 12DAFTAR PUSTAKA................................................................ 13
BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Society 5.0 atau bisa diartikan masyarakat 5.0 merupakan sebuah konsep yang dicetuskan oleh pemerintah Jepang. Konsep Society 5.0 tidak hanya terbatas untuk faktor manufaktur tetapi juga memecahkan masalah sosial dengan bantuan integrasi ruang fisik dan virtual (Skobelev & Borovik, 2017). Society 5.0 memiliki konsep teknologi big data yang dikumpulkan oleh Internet of Things (IoT) (Hayashi) diubah oleh Artifical Inteligence(AI) (Rokhmah, 2019) (Ă–zdemir, 2018) menjadi sesuatu yang dapat membantu masyarakat sehingga kehidupan menjadi lebih baik (Mathews, 2015). Society 5.0 akan berdampak pada semua aspek kehidupan mulai dari kesehatan, tata kota, transportasi, pertanian, industri dan pendidikan (Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Saat ini pendidikan di Indonesia memasuki era 4.0. trand pendidikan Indonesia saat ini yaitu online learning (Ahmad, 2018) yang menggunakan internet sebagai penghubung antara pengajar dan murid. Perkembangan teknologi rupanya menjadi peluang bisnis dibidang pendidikan dengan mendirikan bimbel berbasis online (Syarizka, 2019). Selain itu perkembangan teknologi juga mengubah tatanan pendidikan di Indonesia sebagai contohnya 1) sejak tahun 2013 sistem Ujian Nasional berubah dari paper based test menjadi online based tase (Pakpahan, 2016), 2) sistem penerimaan penerimaan peserta didik baru dari tingkat SD sampai dengan tingkat Universitas di Indonesia sudah dilakukan sevara online baik dari pendaftaran sampai dengan pengumuman penerimaan (Daulay, 2019).
Peran guru atau pengajar dalam era revolusi Industri 4.0 harus diwaspadai, para pendidik tidak boleh hanya menitik beratkan tugasnya hanya dalam transfer ilmu, namun lebih menekankan pendidikan karakter, moral dan keteladanan. Hal ini dikarenakan transfer ilmu dapat digantikan oleh teknologi namun, penerapan softskill dan hardskill tidak bisa digantikan dengan alat dan teknologi secanggih apapun (Risdianto, 2019).
Dengan lahirnya society 5.0 diharapkan dapat membuat teknologi dibidang pendidikan yang tidak merubah peran guru ataupun pengajar dalam mengajarkan pendidikan moral dan keteladanan bagi para peserta didik. Tujuan penulisan ini yaitu untuk mengetahui kesiapan Indonesia dalam menghadapi society 5.0 dibidang pendidikan.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Pendidikan 4.02. Untuk mengetahui pengertian pendidikan 5.0
1.3 Manfaat
1. Mengetahui pengertian pendidikan 4.02. Mengetahui pengertian pendidikan 5.0
BAB IIPEMBAHASAN
2.1 Pendidikan Dalam Teknologi Era Industri 4.0Seiring dengan berkembangnya teknologi, cara belajar mengajar di era revolusi industri 4.0 juga mengalami perubahan. Internet dan komputer menjadi sarana yang akan memudahkan proses belajar mengajar. Proses pembelajaran yang dulunya harus dilakukan dengan tatap muka secara langsung antara guru dan siswa, kini pada era revolusi industri 4.0 pembelajaran dapat dilakukan dengan kelas online melalui media sosial atau media lainnya yang mendukung proses pembelajaran online.
Hadirnya internet dan kecepatan search engine melahirkan gerakan literasi digital. Pencarian teori, konsep, praktik, dan jenis keilmuan apapun via intenet menjadi sangat mudah dan sangat cepat. Seiring dengan kecepatan pengaksesan data dan intenet, pemerintah Indonesia mulai tahun 2017 mencanangkan tiga jenis literasi (salah satunya literasi digital) dalam menghadapi revolusi industry 4.0 (Risdianto, 2019). Konsep literasi digital tidak hanya bertumpu pada “membaca” namun juga peningkatan kemampuan untuk menganalisis dan menggunakan informasiinformasi digital yang diperoleh (Aoun, 2017) untuk keperluan yang benar, menghindari hoax, dll.
Dalam hal Pembelajaran di era revolusi industri 4.0, para pendidik dapat menerapkan model hybrid/blended learning. Blended learning adalah metode yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dikelas dengan pembelajaran online (Wilson, 2015). Sebagai contoh dari blended learning yaitu penggunaan sistem learning management system pada sebuah perguruan tinggi ataupun sekolah. Sistem learning management sistem dapat mempermudah proses pembelajaran karena sitem ini berjalan secara online jadi siswa dan pengajar tidak perlu melakukan tatap muka secara langsung. Mereka dapat melakukan diskusi online, ujian online, dan siswa dapat mengunduh materi secara online pada sistem. Sistem ini dapat diakses dimana saja dan kapan saja.Pada era revolusi industri 4.0 siswa diuntut untuk berfikir kritis oleh karena itu, pembelajaran case – base Learning atau pembelajaran berbasis kasus menjadi metode yang bisa diterapkan pada proses pembelajaran. Case-base Learning sendiri merupakan teknik pembelajaran yang berpusat pada pengembangan potensi siswa dalam menganalisis suatu kasus dan memberikan pemecahan masalah terhadap kasus tersebut. Solusi pemecahan kasus tersebut harus relevan dengan refleksi kehidupan sehari-hari. Case-base learning bertujuan agar siswa terbiasa memecahkan masalah dalam kehidupan nyata dengan benar. (Bhakti, 2018).
Sebuah proses pembelajaran tidak lepas dari peran pengajar atau guru untuk itu pada era revolusi industri 4.0 ini dibutuhkan pengajar yang memiliki core competence yang kuat meliputi educational competence, competence in research, competence for digital, competencein globalization, dan competence in future straties.
Tantangan dalam dunia pendidikan untuk guru di era revolusi industri 4.0 yaitu kesiapan guru dalam akses dan penguasaan teknologi, masih rendahnya tingkat media literasi dikalangan guru, hanya sebagian guru yang mempunyai akses terhadap teknologi informasi. Tantangan bagi siswa jumlah siswa yang masih terlalu banyak sehingga menimbulkan kesulitan dalam proses pembelajaran serta akses terhadap teknologi informasi yang masih belum merata (Wibawa, 2018).
Untuk itu, peran pemerintah dalam pemerataan pembangunan dan pemerataan fasilitas pendidikan di wilayah Indonesia harus lebih diutamakan lagi agar nantinya pada saat pengimplementasian pembelajaran berbasis internet dan teknologi dapat merata hingga keseluruh wilayah Indonesia.
2.2 Pendidikan Dalam Teknologi Era Industri 5.0Industri 5.0 selanjutnya hadir menggantikan industri 4.0 yang ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur. Lee, Lapira, Bagheri, & Kao menjelaskan, industri 5.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor:
1. peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas;
2. Munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis;
3. Terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan
4. Perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing.
Pendidikan 5.0 adalah istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi, perangkat keras dan lunak. Pendidikan 5.0 merupakan fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 5.0, di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baru yang dapat dimanfaatkan bagi perbaikan kehidupan manusia modern.
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa menghafal bukanlah strategi pembelajaran yang efektif, juga bahwa pembelajaran yang berpusat pada guru sudah bukan sebuah struktur atau pendekatan paling efisien untuk keterlibatan siswa. Namun, terlepas dari belajar tentang keterampilan yang siswa dibutuhkan untuk menjadi sukses di abad ke-21, sekolah dan guru perlu mencari tahu peran seperti apa yang dibutuhkan untuk berada dalam pendidikan abad ke-21.
Sebagaimana dipahami lebih awal, peran pendidikan adalah mempersiapkan siswa untuk menjadi anggota masyarakat yang aktif, sukses, dan berkontribusi. Namun, ada perubahan penting yang harus diperhatikan, masyarakat telah berubah. Tanggung jawab sekolah dan pendidik adalah menyiapkan peserta didik agar mampu berkompetisi dan memainkan peran mereka di tengah-tengah komunitas global. Berikut, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh sekolah dan guru dalam memutuskan bagaimana pendidikan dan pembelajaran diselenggarakan.
a. Pembelajaran Berpusat kepada Siswa (Student- Centered Learning)
Pembelajaran yang berpusat pada siswa mengandung makna bahwa guru bukan lagi satu-satunya sumber utama pengetahuan di kelas. Agar mampu berkompetisi dan berkontribusi pada masyarakat global di masa yang akan datang, siswa harus dapat memperoleh informasi baru ketika masalah muncul (learning how to learn). Kemudian, mereka perlu menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah mereka miliki dan menerapkannya untuk menyelesaikan masalah yang ada. Dalam model kelas ini, guru akan bertindak sebagai fasilitator bagi siswa, siswa akan mengumpulkan informasi sendiri, di bawah bimbingan guru. Guru sudah harus mengakomodasi gaya belajar siswa, karena melalui itu, motivasi belajar dan tanggung jawab siswa dapat ditingkatkan. Mereka terlibat dalam berbagai jenis kegiatan langsung, serta menunjukkan pembelajaran dengan berbagai cara. Belajar adalah tentang penemuan, bukan menghafal fakta.
b. Kolaborasi
Siswa harus didorong untuk bekerja bersama untuk menemukan informasi, mengumpulkannya, dan membangun makna. Bagaimana mengenali kekuatan dan talenta yang berbeda yang dimiliki dan dibawa oleh setiap orang ke proyek (Project Based Learning), dan mengubah peran sangat tergantung pada sejauh mana sekolah, guru dan siswa mengembangkan pembelajaran yang kolaboratif. Siswa harus belajar cara berkolaborasi dengan orang lain. Masyarakat saat ini memiliki orang-orang yang berkolaborasi di seluruh dunia. Bagaimana siswa dapat diharapkan untuk bekerja dengan orang-orang dari budaya lain, dengan nilai-nilai yang berbeda dari mereka sendiri, jika mereka tidak dapat bekerja dengan orang-orang yang mereka lihat setiap hari di kelas mereka? Sekolah juga harus berkolaborasi dengan lembaga pendidikan lain di seluruh dunia untuk berbagi informasi dan belajar tentang berbagai praktik atau metode yang telah dikembangkan. Mereka harus bersedia mengubah metode pengajaran mereka mengingat kemajuan baru.
c. Meaningful LearningBerpusat pada siswa tidak berarti bahwa guru menyerahkan semua kendali atas kelas.Sementara siswa didorong untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya, guru masih memberikan bimbingan mengenai keterampilan yang perlu diperoleh. Guru dapat membuat poin penting untuk membantu siswa memahami bagaimana keterampilan yang mereka bangun dapatditerapkan dalam kehidupan mereka. Siswa akan jauh lebih termotivasi untuk mempelajari sesuatu yang dapat mereka lihat manfaat dan nilainya. Guru perlu mengajar dan melatih siswa keterampilan yang berguna dalam situasi apa pun. Pelajaran tidak memiliki makna dan tujuan jika tidak berdampak pada kehidupan siswa di luar sekolah.d. Sekolah terintegrasi dengan Masyarakat.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini dapat melakukan banyak hal. Komunitas sekolah tidak lagi hanya mencakup area yang terletak di lingkungan sekolah, tetapi menjangkau seluruh dan menyelimuti dunia. Pendidikan perlu membantu siswa mengambil bagian dalam komunitas global ini dan menemukan cara agar yang berdampak lebih dari sekadar lingkungan mereka berada. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak perlu belajar nilai membantu orang lain di sekitar mereka dan melindungi lingkungan terdekat mereka, tetapi mereka juga harus belajar tentang bagaimana mereka dapat membantu dan melindungi dunia yang jauh dari mereka. Untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah perlu mendidik siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Melalui kegiatan komunitas sekolah, siswa didorong untuk mengambil bagian dalam kegiatan atau proyek tersebut, dan sesekali membantu masyarakat di sekitar mereka dengan kegiatan sosial yang beragam.
Revolusi industri 5.0 memberikan pengaruh yang besar pada berbagai bidang, namun tidak untuk tiga bidang profesi berikut, yaitu bidang pendidikan (guru), bidang kesehatan (dokter, perawat) dan kesenian (seniman). Peran guru secara utuh sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, “orang tua” di sekolah tidak akan bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan seorang guru kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau digantikan teknologi.
Meskipun profesi guru tidak mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri 5.0, namun guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru harus terus meningkatkan kualitas diri agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Karena itu, sikap atau skill lainnya yang perlu dimiliki guru dalam menghadapi era industri 5.0, adalah antara lain:
1. Bersahabat dengan Teknologi DuniaSelalu berubah dan berkembang ke level yang lebih tinggi, salah satu perubahannya ditandai oleh kemajuan teknologi. Setiap orang tidak akan mampu melawan kemajuan teknologi, karena itu agar tidak tergilas olehnya, guru wajib memiliki kemauan untuk belajar terus-menerus. Perubahan dunia oleh kemajuan teknologi tidak perlu dijadikan sebagai ancaman, namun dihadapi dengan positif, belajar dan beradaptasi, serta mau berbagi dengan teman sejawat atau kolega baik kesuksesan maupun kegagalan.
2. Kerjasama (Kolaborasi)
Hasil yang maksimum akan sulit dicapai bila dikerjakan secara individu tanpa kerjasama atau berkolabrasi dengan orang lain. Karena itu, guru harus memiliki kemauan yang kuat untuk berkolaborasi dan belajar dengan dan atau dari yang lain. Sikap ini sangat diperlukan sekarang dan di masa yang akan datang. Melakukannya pun tidak terlalu sulit, karena dunia sudah saling terhubung, sehingga tidak ada alasan untuk tidak berkolaborasi dengan yang lain.
3. Kreatif dan Mengambil Risiko
Kreativitas adalah salah satu skill yang diperlukan pada Top 10 Skill 2020, kreativitas akan menghasilkan sebuah struktur, pendekatan atau metode untuk menyelesaikan masalah dan menjawab kebutuhan. Guru perlu memodelkan kreativitas ini dan berupaya lebih cerdas bagaimana kreativitas ini diintegrasikan ke dalam tugas-tugas kesehariannya. Para pendidik juga tidak perlu terlalu takut salah, namun selalu siap menghadapi risiko yang muncul. Kesalahan adalah langkah awal dalam belajar, dan tidak perlu menjadi faktor penghambat untuk terus maju, kesalahan adalah untuk diperbaiki.
4. Memiliki selera Humor yang BaikGuru yang humoris biasanya guru yang paling sering diingat oleh murid. Tertawa dan humor dapat menjadi skill penting untuk membantu dalam membangun hubungan dan relaksasi dalam kehidupan. Ini akan mengurangi stress dan rasa frustasi, sekaligus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melihat kehidupan dari sisi lain.5. Mengajar secara Utuh (Holistik)
Dalam berbagai teori belajar dan pembelajaran kita mengenal pembelajaran individual dan kelompok. Dan, akhir-akhir ini, gaya belajar dan pembelajaran yang bersifat individu, semakin meningkat. Karena itu, guru jaman now perlu mengenali siswa secara individu, termasuk keluarganya dan cara mereka belajar (mengenalnya secara utuh, termasuk kendala-kendala yang dialaminya baik secara pribadi maupun di dalam keluarganya).
Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir, menerangkan bahwa ada empat hal yang harus menjadi perhatian perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi.
Pertama, pendidikan berbasis kompetensi menjadi salah satu misi utama perguruan tinggi di era sekarang (Pemerintah, 2005). Setiap mahasiswa mempunyai bakat dan kemampuannya masing–masing oleh karena itu, pendekatan teknologi informasi dibutuhkan untuk membantu menentukan program studi yang tepat sesuai dengan Keduapuannya.
Kedua, pemanfaatan (IoT) Internet of things pada dunia pendidikan. Dengan adanya IoT dapat membantu komunikasi antara dosen, mahasiswa dalam proses belajar mengajar.
Tiga, pemanfaatan virtual/augmented reality dalam dunia pendidikan. Dengan digunakannya augmented reality dapat membantu mahasiswa dalam memahami teori – Tigai yang membutuhkan simulasi tertentu sesuai dengan kondisi sebenarnya. Teknologi 3D pada augmented reality membuat pemakainya merasakan simulasi digital, layaknya kegiatan fisik nyata. Misalkan pada simulasi pesawat terbang yang digunakan oleh para siswa penerbangan untuk lolos uji coba, sebelum melakukan praktik terbang langsung dengan pesawat sebenarnya.
Keempat, pemanfaatan Artifical Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan untuk mengetahui serta mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh pelajar. Proses identifikasi kebutuhan siswa akan lebih cepat dengan teknologi mechine learning yang tertanam artifical intelligence. Semakin banyak data digital yang terhimpun, semakin cerdas pula sistem artifical intelligence, contohnya: Google Assistent, Siri, dll. Dengan teknologi-teknologi tersebut, para pelajar disajikan dengan kemudahan dan kecepatan pencarian data, bahkan teknologi tersebut dapat merekomendasikan data yang tadinya tidak terfikirkan oleh mereka. artifical intelligence tidak hanya menyajikan data mentah, namun juga data yang sudah diolah menjadi data sangat informatif disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya
Pemanfaatan tiga teknologi diatas yaitu artificial intelligence, IoT dan augmented reality diharapkan bisa menciptakan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang siap pakai di dunia industri (Munanda, 2019).
BAB IIIPENUTUP
3.1 KesimpulanEra revolusi industri 5.0 telah mengubah cara berpikir tentang pendidikan. Perubahan yang dibuat bukan hanya cara mengajar, tetapi jauh lebih penting adalah perubahan dalam perspektif konsep pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum saat ini dan masa depan harus melengkapi kemampuan siswa dalam dimensi pedagogik, keterampilan hidup, kemampuan untuk hidup bersama (kolaborasi) dan berpikir kritis dan kreatif.
Mengembangkan soft skill dan transversal Skill, serta keterampilan tidak terlihat yang tidak terkait dengan bidang pekerjaan dan akademik tertentu. Namun, berguna dalam banyak situasi kerja seperti keterampilan interpersonal, hidup bersama, kemampuan menjadi warga negara yang berpikiran global, dan literasi media dan informasi.
Pengembangan kurikulum harus mampu mengarahkan dan membentuk siswa yang siap menghadapi era revolusi industri dengan penekanan pada bidang Science, Technology, engineering, dan Mathematics (STEM), serta berkarakter. Reorientasi kurikulum yang mengacu pada pembelajaran berbasis TIK, Internet of things, big data dan komputerisasi, serta kewirausahaan dan magang, perlu menjadi kurikulum wajib untuk menghasilkan lulusan yang terampil di bidang literasi infromasi, literasi teknologi, dan literasi manusia.
3.2 SaranPengajar memiliki peran yang penting pada peserta didik yaitu bagaimana pengajar dapat memberikan arahan kepada peserta didik dalam menemukan titik permasalahan dengan solusinya. Solusi yang diarahkan oleh pengajar, diharapkan pula tidak hanya solusi yang sudah ada lalu dipakai namun solusi dengan kebaruan seperti masalah yang baru juga sehingga peserta didik bisa berinovasi dan berkreatifitas.
DAFTAR PUSTAKA
NASTITI, Faulinda Ely; ABDU, Aghni Rizqi Nimal. Kajian: Kesiapan Pendidikan Indonesia Menghadapi Era Society 5.0. Edcomtech Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan , [Sl], v. 5, n. 1, hal. 61-66, apr. 2020. ISSN 2599-2139. Tersedia di: < http://journal2.um.ac.id/index.php/edcomtech/article/view/9138 >. Tanggal diakses: 27 nov. 2020. Doi: http://dx.doi.org/10.17977/um039v5i12020p061
https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Prosidingpps/article/view/3801

Komentar
Posting Komentar